Masuk

Ingat Saya

ISLAM DAN DEMOKRASI

 

Oleh: Tri Wahyuni.

Bagi segelintir orang, sistem demokrasi, paham keragaman/kemajemukan (pluralisme), toleransi, dan pesan anti-kekerasan seperti tidak ada kaitannya dengan Islam.  Bahkan ada orang yang dengan mudah menuduh sistem atau nilai-nilai itu berlawanan dengan Islam. Betulkah demikian? Perlu penjelasan yang panjang untuk menjawab pertanyaan ini dengan menelusuri sumber autentik Islam dan pandangaan beberapa penulis kontemporer Muslim yang gelisah dengan Dunia Islam yng masih terpuruk sampai hari ini. Dengan penjelasan yang agak terperinci ini, diharapkan siapa saja yang membaca karya ini akan dapat berpikir lebih jernih dan objektif. Sampai di awal abad ke-21 ini, masih saja ada pihak yang mengharomkan demokrasi dan pluralisme, dan karena haram, pendukungnya dianggap sesat, bahkan kafir.

Mengapa Islam Selaras Dengan Gagasan Demokrasi?

Setelah kita sedikit membicarakan tentang pelaksanaan demokrasi di indonesia melalui Pemilu 1955, tetapi yang pada akhirnya dengan sengaja dihancurkan oleh kekuatan ekstra-parlementer, seperangkat teori tentang demokrasi dari beberapa penulis Muslim perlu pula kita angkat di sini. Islam Indonesia merupakan yang beruntung dalam menerima prinsip demokrasi. Bahkan ada partai politik Islam Masyumi yang telah martir krena membela demokrasi dan konstitusi yang dipermainkan oleh penguasa, sebagaimana baru kita singgung. Umat Islam Indonesia tidak menemukan kesulitan apapun dalam menyesuaikan ajaran Islam dengan prinsip-prinsip demokrasi. Adapaun beberapa penulis Muslim yang buta peta sebagai penentang demokrasi, tidak perlu dirisaukan karena bobot dan posisi argumennya terlalu ringan untuk dipertimbangkan, di samping logikanya kacau.

Kita tegaskan lagi, bahwa sudah sejak awal mayoritas Umat Islam Indonesia adalah pendukung sistem demokrasi. Berbeda dengan mitranya di berbagai belahan dunia yang menolak atau ragu terhadap demokrasi, rakyat Indonesia yang mayoritas muslim malah memandang demokrasi sebagai realisasi prinsip syuro seperti yang diajarkan Al-Qur’an. Selain karena pertimbangan agama, umat islam indonesia mendukung demokrasi juga berdasarkan relitas perimbangan jumlah mereka yang mayoritas jufga sebagai pemeluk Islam.

Maka melalui demokrasi, cita-cita kemasyarakatan dan kenegaraan, islam akan lebih mudanh diperjuangkan, setidak-tidaknya demikianlah secara teoritik. Oleh sebab itu, munculnya partai-partai yang bercolak Islam sebelum dan pasca proklamasi adalah dalam rangk menegakkan pilar-pilar demokrasi itu, sekalipun sering terhempas dalam perjalanan. Mari kirta tengok sejenak tentang apa sebenarnya demokrasi itu di mata penulis-penulis muslim kontemporer. Substansi demokrasi adalah terjaminnya kemerdekaan rakyat untuk memilih pemimpin atau sistem pokitik formal secara bebas dan sekaligus untuk menjatuhkannya jika terjadi penyimpangan dalam pelaksanaan konstitusi. Penulis mesir Fahmi Huwaidi yang tidak terlalu terikat dengan definisi-definisi akademis menulis tentang demokrasi:

substansi demokrasi keluar dari definisi-definisi dan istilah akademis menghendaki masyarakat untuk memilih seseorang yang akan memerin tah mereka serta mengatur urusan mereka, dan tidak menghendaki mereka memilih seseorang penguasa atau sistem yang tidak mereka sukai. Selain itu, menurut demokrasi, mereka hartus memiliki hak untuk meminta pertanggung jawaban kepada penguasa apabila ia melakukan kesalahan, dan hak menurunkannya apabila melakukan penyelewengan. Dan mereka tidak boleh diarahkan kepada paham-paham, metode-metode ekonomi, sosial, budaya, atau politik yang tidak mereka ketahui dan setujui.

Huwaidi merasa heran kepada orang islam yang meno9lak demokrasi dengan mengajukan pertanyaan: lalu apakah demokrasi dengan substansinya yang diutarakan di atas bertentangan dengan Islam ? dari mana pertentangan itu berasal ? adakah dalil pasti dalam Al-Qur’an dan Hadis yang memperkuat dakwaan itu ? lebih tegas lagi dikatakan kenyataanya, orang yang benar-benar memahami substansi demokrasi akan menemukan bahwa substansi tersebut berasal dari konsep Islam.

Jadi menurut hemat saya, demokrasi dan Islam merupakan sistem nilai yang harus terus menerus untuk disinergiskan dalam rangka agenda pembangunan nasional. Islam dan demokrasi akan membawa kedamaian bagi seluruh umat manusia dan akan membawa kemajuan peradaban bangsa. Maka dari itu, generasi pemuda harus siap dan tanggap untuk menyebarkan nilai-nilai Islam dan demokrasi untuk mengkampanyekan kedamaian di muka bumi.

#DamaiDalamSumpahPemuda

Dengan